Bagi
gue, merasa terabay kan si biasa lah~
Yah..
paling siapa si yang gak merduliin? Pacar? Ah biasa banget. Temen? Gak usah
diharapin lagi mereka mah. Ortu? Maklumlah.. anaknya kan gak Cuma gue doang..
Udah
kan? Jadi apa istimewanya coba? Ngga ada kan..
Tapi,
kali ini gua punya cerita atau mungkin lebih cocok dibilang dongeng kali yah?
Ntah lah.. intinya mah gua curhat deh -..-
Jadi
gini, ada peri yang periang banget, periang, jail, baik, yah.. sedikit alig
deh. Peri itu lagi maen ke taman sebelah nah, ditaman itu dia ngeliat
sekumpulan semak semak isinya tuh bunga, dan bunga nya itu bagus bagus..
didunia peri, bunga yang bagus pasti dihuni sama peri yang bagus juga. Dia
samperin tuh bunga, and its all begin
Peri itu
ketemu peri jantan namanya Nathan. Dia tuh sama sekali gak spesial, tapi Nathan
suka sama sahabatnya peri ini sedangkan sahabatnya peri ini suka sama temennya
Nathan. Walhasil peri ini binggung, gimana caranya biar sahabatnya bisa suka
sama Nathan atau ngebuat Nathan berhenti suka sama sahabatnya. Karna dia udah
sering nanganin kasus kaya gini, peri itu pun berasumsi buat bantuin Nathan
meskipun dia tau kalo hasil nya pasti sia sia
Waktu
demi waktu dia berusaha deketin Nathan, dia itu peri jantan yang susah ditebak.
Peri kecil itu pun mulai penasaran sama Nathan dan oke oke.. peri kecil itu
tau, dia kalau dia suka sama Nathan dan sekarang dia harus ninggalin Nathan
kaya peri jantan sebelumnya. Gampang sih, tinggal patahin aja sayapnya pasti
dia menderita. Cuman peri kecil itu mikir.. sayapnya sendiri udah patah. Dan
sayapnya tuh dipatahin sama orang yang jelas jelas dia tau betul siapa itu.
Jadi peri kecil itu gabisa ngeluh. Yang dia bisa cuman nyari alesan yang cukup
kuat buat matahin sayap Nathan.
Berhari
hari… Berminggu minggu
Dia gak
ada ide, dia gak mau lagi matahin sayap mahluk lain setelah dia tau rasanya
terpuruk sendiri ditanah sedangkan yang lain lagi beterbangan dilangit dan dia
juga gak mau ngeliat orang lain sedih kaya dia, makanya dia gak tega buat
matahin sayapnya Nathan
Sore itu
peri kecil duduk diatas ranting pohon yang udah layu dan akhirnya jatoh
ketanah. Dia ngeliat kearah langit biru yang tenang dan damai, dia rindu
terpaan angin yang menabrak wajahnya, perasaan melayang yang dapat menenangkan
hati, dia rindu melihat semuanya dari atas. “kalau dari bawah sini gak banyak
yah yang keliatan” peri kecil itu pun kaget dan menoleh ke sumber suara, “hai,
beth sedang apa kau?” peri kecil itu pun terkesiap sebentar dan kembali tenang,
ia memasang seutas senyum ramah yang menampilkan sederet gigi yang cantik itu
kepada sahabatnya, sahabat setianya Kelly. “hai, Kell aku hanya sedang em.. kau
tau membuang waktu hehe” Kelly pun medaratkan kaki nya dan menyentuh tanah.
“well aku ingin mengatakan sesuatu pada mu”
Mereka
duduk diatas ranting secara bersebelahan dan membicarakan banyak hal, banyak
hal yang juga mengganggu pikiran peri kecil itu.
Ini dia,
ini adalah alasan yang bagus. Gumamnya dalam sepi. Ia berdiri didepan cermin di
bunganya, memandangi sayapnya yang sudah terobek menjadi dua bagian. Dia terus
berpikir untuk menggoda Nathan dan menjatuhkannya ke tanah yang kotor ini,
disaat semua peri bermain di air. Hanya disaat itulah ia dan Nathan dapat
bertatap muka dan disaat itu jugalah waktu yang tepat baginya untuk merobek
sayap Nathan. Ntah sudah berapa jantan yang ia robek sayapnya, tapi kali ini
berbeda, ia tidak ingin melihat Nathan terpuruk sendiri dilumpur yang
menjijikan sepertinya. Sekuat apapun ia berusaha untuk tetap diatas, tapi tetap
saja. Tidak ada hal yang lebih tinggi dibandingkan dengan langit. Apa lagi
Nathan? Apakah ia akan tahan berada ditanah sepanjang hari? Apakah dia akan
tahan terkucilkan sendiri dibawah? Dan sangat tidak mungkin untuk peri kecil
memunculkan diri nya untuk membantu Nathan setelah ia merobek sayapnya. Rasanya
ia ingin menangis, berteriak sekuat tenaga.. tapi untuk apa?
Peri
kecil itu terpuruk sendiri dikelopak bunganya yang sudah tertutup. Ia
kehilangan cahayanya untuk sejenak, apa yang harus ia lakukan? Disaat temannya
sudah bersukarela untuk membantunya menjatuh kan Nathan dan ia akan menyerah
begitu saja? Tidak akan.
Pagi itu
sangat cerah tidak ada kabut yang menutupi permukaan tanah seperti biasanya,
Bethy. Begitulah temannya biasa memanggil peri kecil itu. Ia berjalan
menelusuri jalan setapak yang sedari dulu ia buat, ia menyebutnya jalan rahasianya
karna tidak ada satu peripun yang sudi untuk menginjakkan kaki dibumi ini
mereka selalu mengangkat kaki nya dan melayang meskipun sebenarnya mereka bisa
berjalan, namun mereka tidak mau. Bethy kembali dari lamunannya ia menggesser
batu besar yang ia jadikan pintu dari terowongan persembunyiannya. Tempat itu
sangatlah gelap, dan sayap peri sangat peka terhadap ransang, sayapnya pun
bersinar dan inilah yang biasa ia jadikan alat penyinarannya disini. Ia
memandangi sebuat lukisan. Lukisan yang ia buat dua hari yang lalu saat ia
bersama Nathan. Hatinya kembali terpukul mengingat tidak ada obat untuk sayap
yang patah. Hal itu membuatnya kembali memikirkan tindakan apa yang akan ia
ambil untuk melangkah maju. Sekarang popularitas Nathan sedang berada
dipuncaknya, semua betina memujanya. Pasti tidaklah mudah untuk Bethy
menggambil hati Nathan dan menghancurkannya. Nathan akan memiliki banyak cara
untuk menyembuhkan dirinya sendiri.
Aroma rerumputan
yang sejuk mengantikan betapa lembabnya aroma tanah dihidung bethy. Ia
tersenyum simpul, semua kebingungan ini pasti ada akhirnya yang perlu ia
lakukan hanyalah lupakan masa lalu dan terus berjalan maju. Setelah tiga tahun
Nathan pasti akan melupakannya dan sayapnya yang akan ia robek. Tekad bethy
sudah bulat ia hanya perlu menatap mata Nathan dengan dalam dan merobek
sayapnya saat ia lengah.
Bethy
tersenyum puas akan keputusannya ia berlari sekuat tenaga untuk memberi tau
sahabatnya tentang keputusannya ini, semua ini hanyalah masalah waktu.. waktu
akan menjawab semuanya Nathan waktu jugalah yanga akan memaafkanku, dan waktu
juga yang akan membuat kita bertemu lagi.Saat aku melakukannya, kuharap kau
tidak sedang melihat mataku. Bethy terus berlari meninggalkan butiran air mata
dibelakangnya.
0 comments:
Post a Comment